Pratinjau Pertandingan

Gol-gol Mbappé di New York Dorong Prancis Atasi Senegal dan Nyalakan Perburuan Titel Piala Dunia

Rekor demi rekor jatuh di tangan Kylian Mbappé. Striker berusia 27 tahun itu kembali menunjukkan kelasnya di panggung terbesar sepak bola dunia ketika Prancis meraih kemenangan pembuka yang meyakinkan 3-1 atas Senegal di MetLife Stadium, New Jersey, dalam lanjutan Piala Dunia 2026. Dua gol yang dicetak Mbappé di babak kedua bukan sekadar mengamankan tiga poin bagi Les Bleus, tetapi juga semakin mendekatkan sang bintang ke takhta yang selama ini dikuasai Lionel Messi dalam perburuan rekor gol internasional sepanjang masa.

Pertandingan di kota yang tak pernah tidur itu dimulai dengan tempo yang jauh dari intensitas yang biasa ditunjukkan Prancis. Para pemain Didier Deschamps tampak membutuhkan waktu untuk menemukan ritme permainan mereka, sebuah pola yang sebenarnya sudah mulai terlihat dalam beberapa penampilan terakhir mereka di kualifikasi. Senegal, yang tampil tanpa tekanan berlebihan sebagai tim underdog, mampu mengimbangi permainan Die Roten pada babak pertama dan bahkan sempat mengancam melalui serangan balik berbahaya.

Namun, Mbappé tidak pernah membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan kehadirannya. Gol pertama yang dicetak sang penyerang Paris Saint-Germain pada menit ke-58 lahir dari sebuah assist yang hampir mustahil—sebuah umpan terobosan yang membaca celah di lini pertahanan Senegal dengan presisi bedah. Mbappé menerima bola di area terlarang, melepaskan tendangan first-time yang tidak bisa dihalau kiper Senegal, Abdoulaye Diallo. gol itu mengakhiri puasa golnya selama 45 menit di babak pertama dan sekaligus membuka floodgate bagi Prancis.

Hanya berselang 12 menit kemudian, Mbappé kembali hadir untuk menyelesaikan tugasnya. Kali ini, bola muntah dari penyelesaian tendangan bebas Antoine Griezmann bertemu kaki kiri Mbappé yang sudah siap di tengah kotak penalti. Sentuhan keduanya masih bisa diselamatkan, tetapi rebound kedua—yang muncul setelah bola memantul dari tiang gawang—dengan dingin disambar untuk menggandakan skor Prancis.

Dengan brace tersebut, Mbappé resmi melampaui angka 50 gol untuk Prancis, menjadikannya salah satu dari hanya tiga pemain dalam sejarah Les Bleus yang mampu mencapai tonggak tersebut bersama Zinedine Zidane dan Thierry Henry. Yang lebih mengesankan, striker yang lahir di Bondy, pinggiran Paris, ini mencatatkan 50 gol tersebut dalam jumlah penampilan yang jauh lebih sedikit dibandingkan kedua pendahulunya.

Bagi komunitas sepak bola Indonesia, performa Mbappé bukan sekadar berita internasional yang memenuhi linimasa media sosial. Pemain yang sering dibandingkan dengan kecepatan dan determinasi Cristian Gonzales—albeit dengan kualitas teknis yang berbeda level—ini telah menjadi salah satu striker favorit para penggemar di Tanah Air. Media-media lokal seperti Bolasport dan Bola.com secara rutin membahas setiap gol dan pencapaiannya, sementara forum-forum diskusi di media sosial dipenuhi spekulasi tentang apakah ada pemain Indonesia yang pernah mendekati level produktivitas seperti Mbappé.

“Dulu kita punya Imran Naharury yang prolific di era 90-an, tapi angka-angka Mbappé itu di luar nalar untuk konteks kita,” tulis salah satu komentator di forum Sepakbola Indonesia, mencerminkan kekaguman kolektif yang mendalam terhadap pencapaian striker Prancis tersebut.

Secara historis, puasa gelar juara dunia untuk Prancis berakhir pada 2018 ketika Mbappé—saat itu baru berusia 19 tahun—menjadi pemain termuda sejak Pelé yang mencetak gol di final Piala Dunia. Empat tahun kemudian di Qatar, ia kembali menjadi sorotan dengan hat-trick epik di final melawan Argentina, sebuah penampilan yang gagal membawa pulang trofi tetapi cukup membuktikan bahwa era baru telah tiba dalam sepak bola internasional.

Sekarang, di usia yang dianggap sebagai puncaknya sebagai pesepakbola profesional, Mbappé tampaknya berada dalam posisi untuk mengejar dua rekam jejak bersejarah yang belum pernah disentuh siapa pun di generasinya. Selain target mempertahankan gelar juara dunia untuk kali ketiga—sebuah prestasi yang hanya berhasil dicapai Brasil pada 1958 dan 1962—striker berkaki速 ini juga tengah memperjuangkan mahkota pencetak gol terbanyak sepanjang masa di kancah internasional.

Messi, yang kini bermain di Major League Soccer bersama Inter Miami, menutup kariernya di level internasional dengan raihan 106 gol untuk Argentina. Mbappé, dengan 54 gol yang sudah dicetak untuk Prancis, memiliki jalur yang realistis untuk mengejar angka tersebut jika ia terus tampil di level tertinggi setidaknya hingga Piala Dunia 2030. Perhitungannya sederhana: rata-rata satu gol per pertandingan di turnamen akbar, dikombinasikan dengan penampilan reguler di Nations League dan kualifikasi, membuat target itu bukan lagi sekadar fantasi.

Pelatih Deschamps, yang telah memimpin Prancis sejak 2012, menolak meremehkan ancaman yang dihadapi timnya meski sudah menunjukkan dominasi yang mengesankan di laga pembuka. “Kami masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Babak pertama hari ini membuktikan bahwa konsentrasi harus selalu terjaga di level ini,” tegas mantan kapten Les Bleus tersebut dalam konferensi pers after match.

Senegal sendiri harus mengakui kekuatan lawan mereka 尽管 telah memberikan perlawanan yang berani pada babak pertama. Kekalahan ini tidak serta-merta mengakhiri impian mereka di turnamen ini, mengingat format baru Piala Dunia 2026 yang memberikan lebih banyak فرص bagi runner-up grup terbaik untuk lolos ke babak knockout.

Melihat ke depan, jalan Prancis menuju puncak груп mereka tampaknya sudah jelas terlihat. Namun, tantangan sesungguhnya baru akan dimulai ketika mereka bertemu dengan tim-tim kuat lainnya di babak sistem gugur. Mbappé, dengan performa hariannya yang semakin matang dan kepercayaan diri yang meledak-ledak, tampak siap untuk menghadapi setiap ujian yang datang.

Bagi jutaan penggemar di Indonesia yang tengah membangun mimpi untuk mengikuti perkembangan Piala Dunia 2026 melalui berbagai platform—dari streaming ilegal hingga langganan resmi seperti Vision+ dan Mola TV—pertunjukan Mbappé hari ini menjadi pengingat bahwa kita masih hidup di era keemasan sepak bola, di mana legenda tercipta bukan di atas kertas tetapi di atas rumput hijau stadiums megah seperti MetLife. Dan Mbappé, tanpa keraguan sedikitpun, sedang menulis babnya sendiri dalam sejarah olahraga paling populer di dunia.