Yuto Nagatomo telah mengukir sejarah baru dalam sepak bola Asia. Pemain belakang berusia 37 tahun tersebut dikonfirmasi akan menjadi tokoh sentral dalam skuad Jepang untuk Piala Dunia 2026, menandai partisipasi kalinya yang keempat berturut-turut dalam turnamen评价 bergengsi dunia tersebut. Namun, pencapaian luar biasa ini datang di tengah kekhawatiran besar bagi Samurai Blue, menyusul absennya dua pilar utama mereka.
Nagatomo, yang memulai debut internasionalnya pada tahun 2008 melawan Uni Emirat Arab, kini bakal menambah koleksi penampilannya yang sudah mencapai 152 caps bersama timnas Jepang. Jika ia dimainkan dalam tournament kali ini, Nagatomo akan menjadi pemain Jepang pertama yang merasakan atmosfer lima edisi Piala Dunia berbeda—mulai dari Afrika Selatan 2010 hingga Amerika Serikat-Meksiko-Kanada 2026. Rekor ini tidak hanya mengukuhkan namanya dalam sejarah sepak bola Jepang, tetapi juga menempatkan dirinya di antara segelintir pemain Asia yang pernah mencatatkan pencapaian serupa.
“Kepergian Nagatomo ke panggung dunia sekali lagi membuktikan bahwa tradisi dan pengalaman tetap menjadi senjata utama dalam kompetisi international,” tulis media olahraga tanah air seperti Bolasport dalam analisisnya baru-baru ini.
Bagi masyarakat sepak bola Indonesia, sosok Nagatomo bukanlah nama asing. Pemain yang pernah memperkuat Inter Milan dan Galatasaray ini menjadi referensi bagi banyak pemain muda Indonesia yang bermimpi bermain di Eropa. Perbandingan antara perjalanan karier Nagatomo dengan pencapaian timnas Indonesia selalu menarik untuk dibahas di forum-forum diskusi seperti di Kaskus dan media sosial.
Namun, optimisme atas pencapaian Nagatomo ternodai oleh kabar duka dari kamp latihan Jepang. Pelatih kepala Hajime Moriyasu dikonfirmasi harus merombak susunan skuadnya secara signifikan setelah dua bintang utama mereka dikonfirmasi tidak dapat berpartisipasi.
Kaoru Mitoma, sayap Brighton & Hove Albion yang menjadi idola baru penonton Liga Primer Inggris, mengalami cedera lutut yang memaksanya menjalani masa pemulihan panjang. Musim lalu, pemain berusia 27 tahun tersebut mencatatkan delapan gol dan enam assist untuk The Seagulls di berbagai kompetisi—kontribusi yang sangat vital bagi ambisi clubeurope mereka. Tanpa Mitoma, lini serang Jepang kehilangan kecepatan dan kreativitas yang menjadi ciri khas serangan balik mereka yang mematikan.
Lebih mengejutkan lagi, kapten timnas Jepang Wataru Endo juga harus mengundurkan diri dari skuad. Gelandang bertahan yang telah menjadi pilar Liverpool selama dua musim terakhir ini menanggung cedera hamstring yang tidak memungkinkan dirinya tampil di puncak performa. Endo telah mengemas 62 caps untuk Samurai Blue dengan torehan tiga gol, plus kontribusi signifikan yang membantu Liverpool finis di puncak klasemen Liga Primer Inggris pada musim sebelumnya.
Statistik keduanya sangat bicara banyak. Mitoma mencatatkan rasio kontribusi gol satu gol per 180 menit di Liga Primer—angka yang mengesankan untuk seorang pemain sayap. Sementara Endo menjadi salah satu kapten paling banyak intersepsi di liga, dengan rata-rata 2,3 sapuan per pertandingan.
Bagi timnas Indonesia, situasi ini memberikan perspektif menarik. Bayu Syaifuddin dan kolega di skuad Garuda mungkin tidak memiliki tradisi sebesar Jepang, namun absennya dua superstar Asia Timur ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun tim yang benar-benar aman dari masalah cedera. Perbandingan antara infrastruktur olahraga Indonesia dengan sistem yang dibangun Jepang—yang memungkinkan Nagatomo tetap berada di level tertinggi di usia 37 tahun—sering menjadi topik hangat di kalangan pengamat lokal.
Kondisi ini berujung pada meningkatnya tekanan terhadap Daizen Maeda dan Takumi Minamino untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Mitoma dan Endo. Moriyasu, yang telah melatih timnas sejak 2018, perlu menemukan formula baru tanpa dua peças utamanya.
Secara historis, Jepang telah menunjukkan kemampuannya beradaptasi. Di Piala Dunia 2022, mereka berhasil menyingkirkan Jerman dan Spanyol di babak grup—kemenangan yang kemudian menjadi materi diskusi panjang di kalangan komentator Indonesia yang mengagumi konsistensi Asia Timur di pentas dunia. Kesuksesan itu, bagaimanapun, tercapai dengan kontribusi krusial dari Endo sebagai jangkar di lini tengah dan Mitoma sebagai sumber kreativitas dari sayap.
Melihat ke depan, skuad Jepang tetap memiliki modal kuat despite absennya dua bintang mereka. Takehiro Tomiyasu dari Arsenal dan Ko Itakura dari Borussia Mönchengladbach siap membentuk lini pertahanan yang solid. Di lini depan, kartu truf ada pada Maya Yoshida yang bakal memimpin pertahanan bersama kapten pengganti.
Turnamen 2026 akan menjadi ujian sejati bagi depth skuad Jepang. Tanpa Mitoma dan Endo, Samurai Blue ditantang untuk membuktikan bahwa tradisi pengembangan pemain muda dan sistem pelatihan yang konsisten mampu menghasilkan pengganti yang sepadan.
Bagi penggemar Indonesia yang akan memantau tournament ini—baik melalui layar kaca maupun streaming online—pertandingan Jepang bakal menjadi salah satu yang wajib disimak. Bukan sekadar karena kualitas mereka, tetapi juga karena cerita tentang bagaimana sebuah timnational membangun ketahanan meski kehilangan bintangnya. Ini adalah pelajaran berharga bagi pembangunan sepak bola Indonesia ke depan.