La Gazzetta dello Sport, salah satu surat kabar olahraga paling berpengaruh di Eropa, melepaskan kritik tajam terhadap Jonathan David setelah penampilan mengecewakan striker Fulham dalam laga pembuka Kanada di Piala Dunia 2026. Sang penyerang yang beberapa kali dikaitkan dengan klub-klub Serie A seperti AC Milan dan Napoli, melewatkan beberapa peluang emas yang seharusnya bisa mengubah wajah pertandingan di MetLife Stadium, East Rutherford.
David, yang telah mengemas 15 gol di Liga Primer Inggris musim ini bersama Fulham, tampaknya kesulitan menerjemahkan performanya yang konsisten di level klub ke panggung terbesar sepak bola dunia. Berdasarkan data dari Squawka, penyerang berusia 24 tahun itu memiliki expected goals (xG) sebesar 2,3 dalam pertandingan tersebut, namun gagal mengonversi peluang-peluangnya menjadi gol. Statistik ini menunjukkan bahwa Kanada memang menciptakan peluang, namun penyelesaian akhir menjadi masalah utama bagi skuat asuhan Jesse Marsch.
“La Gazzetta dello Sport menggambarkan David dengan kata-kata pedas, menyebutnya sebagai ‘sniper yang meleset targetnya sendiri,'” tulis salah satu analis sepak bola yang mengutip kritik media Italia tersebut.
Kontras dengan penampilan David yang menyedihkan, dua pemain Serie A justru bersinar terang di pertandingan yang sama. Nicolò Barella dari Inter Milan membuka skor untuk Italia dengan tendangan voli yang spektakuler di menit ke-23, memanfaatkan umpan silang dari Federico Dimarco. gol ini tidak hanya memberikan keunggulan bagi Gli Azzurri tetapi juga menunjukkan kualitas internasional yang menjadi ciri khas pemain-pemain terbaik Serie A saat ini.
Sayangnya bagi David dan Kanada, gol Barella tersebut hanya menjadi pembuka dari serangkaian aksi gemilang pemain-pemain Serie A di Piala Dunia 2026. Statistik dari transfermarkt menunjukkan bahwa Serie A mengirimkan total 87 pemain ke turnamen ini, jumlah tertinggi kedua dari semua liga Eropa, setelah Premier League yang mengirimkan 96 pemain. Dominasi ini semakin dipertegas dengan fakta bahwa 12 dari 32 tim peserta memiliki setidaknya satu pemain yang bermain di Serie A.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, tornamen ini memiliki daya tarik khusus. Beberapa sumber seperti Bolasport dan Bola.com secara intensif meliput partisipasi pemain-pemain Asia di Piala Dunia 2026, termasuk mereka yang bermain di Serie A. Meskipun tidak ada pemain Indonesia di turnamen ini, banyak penggemar Tanah Air yang mendukung pemain-pemain Asia lainnya seperti Takehiro Tomiyasu (Jepang, Bologna), Kaoru Mitoma (Jepang, Brighton), dan Son Heung-min (Korea Selatan, Tottenham) yang ikut meramaikan kompetisi global tersebut.
Performa David menjadi ironi tersendiri mengingat sejarah panjang pemain Kanada di Serie A. Johanneson yang bermain untuk Torino pada 1960-an dan 1970-an pernah menjadi pionir bagi sepak bola Kanada di Eropa. Saat ini, Toronto FC menjadi salah satu klub MLS yang rutin mengirim pemain muda mereka untuk trial di akademi Serie A, menunjukkan koneksi yang terus berkembang antara sepak bola Kanada dan liga top Italia.
Dari perspektif Indonesia, performa pemain Serie A di Piala Dunia 2026 memberikan inspirasi tersendiri bagi pengembangan sepak bola nasional. Dengan meningkatnya jumlah pemain Asia yang bermain di Serie A, banyak analis lokal seperti yang tertulis di Media Indonesia dan Republika berpendapat bahwa langkah natural selanjutnya adalah melihat pemain Indonesia mengikuti jejak tersebut. Klub-klub seperti Bologna, Torino, dan Sassuolo telah menunjukkan kesediaan untuk mengembangkan talenta dari luar Eropa.
Melihat ke depan, kritik La Gazzetta dello Sport terhadap David menyoroti tekanan yang dihadapi striker di panggung internasional. Dengan tujuh gol dalam lima penampilan terakhirnya untuk Fulham di Premier League, kemampuan David tidak perlu diragukan, namun Piala Dunia tetap menjadi panggung yang berbeda. Pelatih kepala Kanada, Jesse Marsch, yang juga memiliki pengalaman di Serie A sebagai asisten Brendan Rodgers di Leicester City, kemungkinan akan terus memberikan kepercayaan penuh kepada David untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya di babak penyisihan grup.
Bagi Serie A, torneamen ini menjadi bukti nyata kekuatan liga sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Dengan rata-rata usia skuad terbaik mereka yang kini hanya 26,3 tahun berdasarkan data terbaru dari Football Observatory, Serie A membuktikan bahwa mereka tidak hanya bergantung pada warisan historis tetapi juga mampu bersaing dengan liga-liga lainnya dalam hal vitalitas dan kualitas talenta muda. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah David dapat membuktikan kritikus Italia tersebut salah dan membantu Kanada melangkah lebih jauh di turnamen ini, sebuah narasi yang akan terus diikuti oleh jutaan penonton di seluruh dunia, termasuk komunitas sepak bola Indonesia yang terus bertumbuh.