Gagal melaju ke babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026, Timnas Turki harus menelan pil pahit eliminasi lebih awal setelah kalah 1-0 dari Paraguay dalam laga kedua Grup D. Kegagalan ini terjadi ironisnya saat Paraguay bermain dengan sepuluh pemain selama sebagian besar pertandingan, setelah gelandang Miguel Almiron menerima kartu merah di babak pertama. Hasil ini sontak mengakhiri perjalanan Milli Takım di turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Statistik mengejutkan muncul dari laporan Federasi Sepak Bola Turki. Timnas Turki mencatatkan possession bola sebesar 68 persen selama 90 menit, menciptakan total 14 peluang tembakan, namun gagal mengonversi satupun gol ke gawang Paraguay. Precision passing mereka mencapai 89 persen, melampaui Paraguay yang hanya mencatatkan 76 persen. Meskipun dominance statistik tersebut, satu gol semata wayang dari Paraguay via Antonio Sanabria menjadi pembeda antara kedua tim di laga yang berlangsung di Stadion MetLife, Amerika Serikat, itu.
Reaksi emosional menghiasi ruang ganti Turki seusai peluit panjang wasit. Kiper Uğurcan Çakır yang bermain gemilang dengan empat penyelamatan krusial, menundukkan kepala dan menyampaikan penyesalan mendalam kepada seluruh bangsa Turki melalui akun medianya. “Saya memohon maaf dari seluruh rakyat kami. Kami tahu betapa besar harapan yang mereka berikan kepada kami,” tulisnya dengan huruf kapital, lengkap dengan emoji menangis.
Kapten tim Hakan Çalhanoğlu, yang bermain penuh 90 menit di lini tengah, menggambarkan kondisi mental seluruh skuad seusai kegagalan ini. “Manusiawi sekali, kita tidak bisa menerima kenyataan ini. Setiap pemain memberikan segalanya di lapangan, tapi football sometimes tidak berpihak kepada kita,” kata gelandang Inter Milan tersebut dengan suara serak dalam jumpa pers pasca-pertandingan.
Gelandang muda Arda Güler, yang digadang-gadang menjadi senjata utama serangan Turki di turnamen ini, tampak tidak mampu menyembunyikan kekecewaan. Remaja 19 tahun yang bermain untuk Real Madrid itu berkata dengan nada bergetar, “Kami merasa malu. Sepak bola adalah tentang hasil, dan malam ini kami gagal total.” Ia kemudian menambahkan bahwa seluruh pemain perlu introspeksi mendalam dan bekerja lebih keras untuk masa depan.
Dari pinggir lapangan, kritik pedas terlontar dari berbagai kalangan. Mantan kiper legendaris dan now-commentator Ahmet Çakar tidak menahan amarahnya ketika menyampaikan analisis di kanal olahraga A Spor. “Saya akan mengantarkan Montella ke bandara dan memastikan ia pulang dengan penerbangan pertama ke Italia.这个男人 tidak memiliki kualitas untuk melatih tim nasional sebesar Turki,” tegas Çakar yang dikenal dengan komentar blak-blakan-nya di media Turki.
Namun, di tengah gelombang kritik, mantan bintang internasional Tuncay Şanlı memilih untuk mengambil pendekatan berbeda. Legenda serangan Turki yang kini menjadi pengusaha dan tokoh masyarakat di Bodrum itu menyerukan persatuan. “Kita sudah terlalu sering melihat timnas hancur karena perpecahan internal. Para pemain ini adalah anak-anak kita, dan mereka membutuhkan dukungan kita lebih dari sebelumnya. Bersatulah kita, terpecah belah kita jatuh,” seru Şanlı dalam sebuah acara komunitas.
Dari perspektif Indonesia, eliminasi dini Turki ini menjadi bahan diskusi hangat di kalangan pecinta sepak bola tanah air. Banyak fans Indonesia yang mendukung Turki di turnamen ini karena kedekatan budaya dan kehadiran banyak pemain Turki di Liga 1 Indonesia melalui marquee player dan naturalisasi. Ketersediaan streaming laga Turki di platform digital Indonesia memudahkan ratusan ribu penonton untuk menyaksikan langsung perjuangan Milli Takım, yang kini menjadi momen menyakitkan untuk ditonton.
Montella sendiri mengakui kegagalan ini merupakan salah satu momen terburuk dalam kariernya sebagai pelatih. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Anadolu Ajansı, pelatih asal Italia itu menyatakan, “Saya mengalami kekecewaan yang sangat mendalam. Semoga seluruh bangsa Turki bisa memaafkan kami karena tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka.”
Melihat ke depan, perjalanan Turki di kancah internasional tampaknya memerlukan evaluasi menyeluruh. Dalam sejarah Piala Dunia, penampilan terbaik mereka terjadi di edisi 2002 ketika berhasil meraih posisi ketiga, pencapaian terbaik sepanjang masa. kini, dua dekade kemudian, tim yang dijuluki “Ay Yıldızlılar” itu masih belum mampu mengulangi prestasi gemilang tersebut. Dengan Euro 2028 yang akan datang sebagai target terdekat, federasi Turki menghadapi pertanyaan besar tentang arah pembangunan skuad ke depan.