Pratinjau Pertandingan

Penonton Iran membawa bendera terlarang Singa dan Matahari ke SoFi Stadium meski ada tekanan FIFA

Komunitas diaspora Iran di Amerika Serikat menunjukkan dukungan mereka dengan membawa ribuan bendera Singa dan Matahari ke SoFi Stadium, Inglewood, California, selama turnamen Piala Dunia. Aksi ini berlangsung di tengah tekanan FIFA terhadap simbol-simbol politik di venue pertandingan, namun penonton Iran tetap gigih mengekspresikan identitas historis mereka.

Lambang Singa dan Matahari telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Iran selama berabad-abad. Simbol ini pertama kali diadopsi secara resmi pada era Dinasti Safavid sekitar abad ke-16 dan tetap menjadi bendera nasional Iran hingga Revolusi Islam 1979 menggulingkan rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi. Dengan penghapusan simbol tersebut, pemerintah Iran baru di bawah Ayatollah Khomeini melarang penggunaannya di dalam negeri, menganggapnya sebagai representasi monarki yang sudah runtuh.

Diperkirakan lebih dari satu juta warga Iran tinggal di Amerika Serikat, dengan konsentrasi terbesar di California Selatan, Los Angeles, dan sekitar 500.000 lainnya tersebar di kota-kota besar seperti New York dan Houston. Komunitas besar ini menjadikan SoFi Stadium—tempat yang juga menjadi kandang Los Angeles Rams dan Chargers di NFL—sebagai titik berkumpul bagi pendukung Iran selama Piala Dunia.

Seorang saksi mata di lokasi mengatakan kepada media lokal bahwa bendera-bendera itu mulai bermunculan sejak penonton memasuki area parkir stadion. “Saya melihat ratusan, mungkin ribuan bendera di antara kerumunan. Petugas keamanan mencoba melakukan penyitaan, tapi penonton terus memproduksi dan membawa lebih banyak,” jelas saksi tersebut, yang meminta namanya tidak disebutkan karena kekhawatiran akan dampak di kemudian hari.

FIFA telah menerapkan regulasi ketat yang melarang promosi pesan politik di dalam venue pertandingan. Dalam Pedoman Ketentuan 2022 yang diperbarui untuk turnamen, asosiasi tersebut menyatakan bahwa “simbol, pesan, atau gambar politik tidak diizinkan di dalam stadium.” Namun, penegakan aturan ini menghadapi tantangan signifikan ketika ribuan penonton secara bersamaan mengibarkan bendera yang dilarang.

Dari perspektif Indonesia, situasi ini memicu diskusi menarik di kalangan pecinta sepak bola nasional. banyak pengguna media sosial Indonesia yang membahas insiden SoFi Stadium, dengan beberapa membandingkan perjuangan simbol historis Iran dengan bagaimana masyarakat global menyuarakan aspirasi politik melalui olahraga. Komunitas sepak bola Indonesia, yang dikenal memiliki basis penggemar yang passionate, menyoroti bagaimana Piala Dunia selalu menjadi platform untuk berbagai bentuk ekspresi di luar lapangan hijau.

Gilang Ramadhan, analis sepak bola yang juga kolumnis di salah satu media olahraga Indonesia, menyebutkan bahwa penggemar Indonesia seharusnya dapat memahami sensibilitas ini. “Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang dengan simbol-simbol nasional yang berubah seiring pergantian rezim. Kita bisa menghargai mengapa diaspora Iran begituattach pada lambang Singa dan Matahari—itu adalah bagian dari identitas dan memori kolektif mereka,” tulisnya dalam kolom opini yang dipublikasikan akhir pekan lalu.

Momen paling emosional terjadi ketika Iran menjalani pertandingan melawan salah satu tim kuat di grupnya. Para penonton yang berkumpul di sektor tertentu memulai nyanyian dan tifo massal yang menampilkan kombinasi warna hijau, putih, dan merah dari bendera Singa dan Matahari. Tindakan kolektif ini mendapat tepuk tangan dari penonton lain yang bukan berasal dari Iran, menciptakan gelombang dukungan lintas-budaya yang jarang terlihat di eventospor internasional.

Penonton Iran di stadion juga menerima dukungan implisit dari kelompok-kelompok aktivis hak asasi manusia internasional. Beberapa organisasi yang berbasis di Jenewa dan Brussel mengeluarkan pernyataan mendukung hak penggemar untuk mengekspresikan identitas budaya mereka, dengan mencatat bahwa pelarangan simbol historis merupakan pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi.

Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan komentar resmi mengenai kejadian di SoFi Stadium. Namun, saluran televisi pemerintah Iran memperingatkan bahwa warga negara yang diketahui mengibarkan bendera terlarang di luar negeri akan menghadapi “akibat hukum” upon kepulangan mereka.

Melihat ke depan, ketidakpuasan diaspora Iran terhadap kepemimpinan saatini tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat. Dengan Iran tidak memenuhi syarat untuk Piala Dunia berikutnya dan banyak pemain bintang memilih untuk mewakili negara lain atau bermain di liga-liga Eropa, komunitas internasional memiliki lebih banyak ruang untuk menyuarakan perasaan mereka. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah FIFA akan merevisi kebijakan simbolnya atau terus bersitegang dengan penonton yang gigih mempertahankan warisan sejarah mereka.

Apa yang terjadi di SoFi Stadium menjadi pengingat bahwa sepak bola, meski berusaha tetap netral secara politik, sering kali menjadi cermin ketegangan sosial dan budaya yang lebih luas di panggung global.