Christian Pulisic memang tidak turun ke lapangan, tetapi skuad Timnas Amerika Serikat justru tampil gemilang tanpa kehadiran kapten mereka. Tim asuhan Gregg Berhalter itu memastikan tiket ke babak gugur Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Australia dengan skor meyakinkan 2-0 di Estadio Azteca, Minggu malam waktu setempat.
Pulisic, gelandang andalan AC Milan yang menjadi mesin serangan utama Amerika Serikat, harus menyaksikan dari tribun karena cedera hamstring yang dialaminya seminggu sebelumnya. Absennya pemain berusia 26 tahun itu justru memunculkan pertanyaan besar: bisakah USA mengancam tanpa pemimpin mereka di lini depan?
Jawabannya datang dalam bentuk permainan kolektif yang mengesankan. Para penggawa Stars and Stripes tampil disiplin namun berbahaya di depan gawang lawan, dengan kreativitas yang tersebar di berbagai lini. Pertahanan Australia yang sudah dipermalukan 6-1 oleh Turki sebelumnya, semakin kesulitan menghadapi tempo permainan Amerika yang terus meningkat sepanjang babak kedua.
Statistik menunjukkan dominasi penuh Amerika Serikat dalam laga tersebut. Mereka mencatatkan 14 percobaan tendangan dengan enam di antaranya mengarah ke gawang. Australian Socceroops hanya mampu membuat tiga peluang bersih sepanjang 90 menit, sebuah bukti betapa kokohnya lini tengah dan pertahanan yang dibangun oleh timnas yang bermarkas di CONCACAF itu.
Untuk pertama kalinya dalam dua penampilan Piala Dunia terakhirnya, Amerika Serikat lolos dari fase grup dengan penampilan yang meyakinkan. Pada edisi 2022 di Qatar, mereka tersingkir di babak grup despite memiliki skuad bertabur talenta muda. Kali ini, dengan tekanan yang jauh lebih besar sebagai salah satu negara tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko, para pemain muda Amerika menunjukkan kedewasaan yang melampaui usia mereka.
Kapten sementara, yang mengenakan ban kapten setelah Pulisic tidak bisa tampil, menjadi motor permainan dengan dua assist yang memindahkan pertahanan Australia dari sisi ke sisi. Pergerakannya yang dinamis memaksa bek-bek Australia untuk terus menyesuaikan posisi, membuka celah yang kemudian dimanfaatkan dua kali oleh striker utama mereka.
Pertanyaan tentang ketersediaan Pulisic untuk fase gugur menjadi fokus utama awak media di zona campuran setelah pertandingan. Grealish berapi-api memastikan bahwa kapten mereka sedang dalam proses pemulihan dan optimisme tinggi untuk tampil di babak 16 besar. Tim medis AS dilaporkan melakukan segala cara untuk mempercepat masa pemulihan sang playmaker, mengingat pengaruhnya yang tidak tergantikan dalam sistem permainan Berhalter.
Dari perspektif sepak bola Indonesia, performa Amerika Serikat ini menarik untuk dicermati sebagai referensi pengembangan talenta muda lokal. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) terus mengupayakan regenerasi pemain melalui berbagai program di level usia muda. Kesuksesan USA yang berani memainkan pemain-pemain muda tanpa ketergantungan pada satu bintang menjadi studi kasus menarik bagi pengembangan sepak bola nasional.
Indonesian Premier League dan timnas Indonesia sendiri sedang dalam fase membangun, dengan target menembus Piala Dunia 2034 atau lebih cepat. Momen seperti ini, di mana skuad bisa tampil solid tanpa figur utama mereka, menjadi pelajaran berharga tentang kedalaman skuad yang perlu dibangun oleh timnas Indonesia.
Laga melawan Australia juga menampilkan fakta menarik: untuk pertama kalinya dalam sejarah, tiga negara dari CONCACAF lolos ke babak gugur sekaligus. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko semua memastikan tempat di 16 besar, sebuah rekor kontinental yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini semakin menunjukkan peningkatan kualitas sepak bola di kawasan Amerika Utara, yang turut didukung oleh persiapan intensif menjelang Piala Dunia 2026.
Ke depan, Amerika Serikat akan menunggu pemenang antara grup E yang mempertemukan Belgia, Slovakia, Romania, dan Gibraltar. Dengan Pulisic yang diproyeksikan pulih dalam beberapa hari ke depan, momentum skuad asuhan Berhalter semakin menjanjikan. Mereka tidak hanya lolos dari grup, tetapi juga menunjukkan bahwa skuad mereka memiliki kedalaman yang selama ini diragukan banyak pengamat.
Gelombang optimisme kini membara di kalangan penggemar Amerika Serikat, yang terakhir merasakan kebahagiaan lolos dari grup pada tahun 2002. kini mereka melangkah dengan keyakinan baru, siap menghadapi tantangan di babak gugur dengan skuad yang semakin lengkap dan percaya diri.