Aziz Yıldırım resmi kembali ke kursi kepresidenan Fenerbahçe pada Juni 2024, menandai berakhirnya era Ali Koç yang berlangsung selama lima tahun. Kembalinya Yıldırım, yang sebelumnya memimpin klub dari 2000 hingga 2018 dengan torehan empat gelar Liga Utama Turki dan satu trofi Turki Cup, langsung diikuti oleh gebrakan perubahan besar di tubuh manajemen dan staf kepelatihan.
İsmail Kartal ditunjuk sebagai pelatih kepala baru, menggantikan posisi yang sempat diisi berbagai nama besar dalam beberapa musim terakhir. Kartal bukan wajah baru di Şanlıurfa Şanlıurfa — ia telah berkarier panjang di内部 Fenerbahçe, baik sebagai asisten maupun pelatih sementara, dan memahami filosofi bermain sarı lacivertli secara mendalam. Keputusan ini menunjukkan preferensi Yıldırım terhadap konsistensi dan stabilitas rather than hiring high-profile foreign managers. Bersamaan dengan itu, Oğuz Çetin — legenda hidup Fenerbahçe dengan lebih dari 400 penampilan resmi untuk klub dan satu gol bersejarah di final Turki Cup 2012 — dipercaya mengisi posisi Direktur Sepak Bola. Penunjukan Çeton Menuai Pujian Dari suporter, mengingat kedekatannya dengan basis suporter dan pemahamannya tentang DNA klub.
Namun, di luar penunjukan Namen yang mendapat apresiasi, beberapa keputusan lain justru mengundang pertanyaan publik. Edin Dzeko dan Dusan Tadic, dua marquee players yang bergabung dengan Fenerbahçe dengan ekspektasi tinggi, telah meninggalkan İstanbul tanpa adanya upacara perpisahan resmi. Dzeko, yang mencatatkan 21 gol dan 8 assist dalam dua musim bersama Fenerbahçe, diberitakan tidak memenuhi kriteria baru entrenador regarding player age profile dan career trajectory planning. Sementara Tadic, yang tampil 61 kali dengan 13 gol dan 18 assist, menjadi bagian dari strategi regenerasi skuad yang kini digalakkan manajemen. Media Turki mencatat bahwa kedua pemain tidak termasuk dalam rencana İsmail Kartal untuk membangun tim yang lebih dinamis dan berusia lebih muda secara ratarata.
Selain kepergian kedua bintang Balkan tersebut, Fenerbahçe juga mengonfirmasi perpisahan dengan Mario Branco yang menjabat sebagai Direktur Olahraga. Branco, yang bertanggung jawab atas beberapa transfer kontroversial dalam beberapa jendela transfer terakhir, digantikan oleh struktur manajemen baru di bawah komando Oğuz Çetin. Keputusan ini menunjukkan bahwa Yıldırım tidak hanya ingin mengganti figure publik seperti pelatih, tetapi juga ingin membersihkan struktur internal yang dianggap tidak lagi sejalan dengan visi baru.
Geberakan tidak berhenti di sana. Jose Mourinho, yang musim lalu melatih Fenerbahçe, diketahui telah melakukan perombakan besar pada staf kepelatihannya. Salvatore Foti, Stefano Raptetti, Luca Fatiga, dan Giovanni Cerra — empat asisten yang bekerja bersama Mourinho — dilepaskan dari posisinya. Entscheidung ini kemudian diganti dengan empat wajah baru yang membawa pendekatan taktis berbeda untuk kompetisi domestik dan Eropa musim depan.
Dari perspektif suporter Indonesia, perubahan drastis di Fenerbahçe menarik untuk dicermati. Egy Maulana Vikri pernah merasakan dinamika serupa ketika mencoba peruntungan di Eropa melaluiTrabzonspor pada 2018. Pengalaman Egy, yang kemudian menjalani trial di beberapa klub sebelum akhirnya bermain di Divisi Utama Malaysia dengan Johor Darul Ta’zim, menjadi pengingat bahwa kebijakan transfer dan kepelatihan di klub-klub top Turki sangat mempengaruhi peluang pemain Asia Tenggara menembus skuad utama. Apabila Fenerbahçe di bawah İsmail Kartal mengadopsi pendekatan yang lebih terbuka terhadap pemain-pemain dari luar Eropa, hal ini bisa membuka peluang baru bagi talenta-talenta muda Indonesia yang tengah berkembang, utamanya melalui program akademi atau kerja sama dengan klub-klub Indonesia yang memiliki kemitraan dengan Liga Turki.
Dari aspek kompetitif, Fenerbahçe saat ini tengah mempersiapkan diri untuk babak kualifikasi kedua Liga Champions UEFA dengan lawan Gornik Zabrze dari Polandia. Club Polandia tersebut telah memberikanstatement kritis mengenai kekuatan Fenerbahçe musim ini, menganggap bahwa periode transisi manajemen bisa menjadi kelemahan yang dapat dimanfaatkan. VAR untuk laga pembuka melawan Tümosan Konyaspor di Liga Utama Turki telah ditunjuk, dengan Ali Şansalan übernimmt tanggung jawab sebagai wasit VAR dalam Entscheidung match tersebut.
Melihat ke depan, fans Fenerbahçe menaruh harapan besar pada kombinasi Aziz Y